Bab Refleksi : Biografi & Kata Pengantar Muallif.

 

Muallif : Malik Al-Mughis & Luqman Al-Hakim

Bab Refleksi : Biografi Muallif & Kata pengantar 

Tuhan, Berikan Aku Alasan untuk Tidak Menyerah
        Merupakan salah satu karya yang ditulis oleh dua muallif, yaitu Malik Al-Mughis & Luqman Al-Hakim. Keduanya hadir dengan latar belakang pengalaman yang berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama, yaitu menghadirkan tulisan yang mampu memberikan penguatan dan motivasi Islami bagi para pembacanya.

    
    1. Malik Al-Mughis
        Merupakan seorang penulis dan motivator Islami yang telah lama berkecimpung dalam dunia kepenulisan, khususnya dalam bidang perancangan buku motivasi Islami. Beliau lahir di Makassar pada tahun 1977 dan memiliki latar belakang pendidikan di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta serta Magister Manajemen Universitas Islam Indonesia. Selain memiliki pengalaman dalam dunia penulis dan sosial, beliau juga dikenal melalui konsistensinya dalam menghasilkan karya. Hingga saat ini, beliau telah menulis lebih dari 150 buku dan terus berusaha menghadirkan tulisan yang memiliki nilai kebermanfaatan bagi banyak orang.

        Salah satu nilai yang menjadi dasar perjalanan beliau adalah keinginan untuk memberikan manfaat sebanyak-banyaknya kepada makhluk Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Nilai tersebut terlihat melalui dedikasi beliau dalam dunia literasi, media, dan motivasi Islami. Melalui berbagai karya yang telah dihasilkan, Malik Al-Mughis menunjukkan bahwa menulis bukan hanya tentang menghasilkan sebuah buku, tetapi juga tentang menyampaikan pesan kebaikan kepada pembaca.

2. Luqman Al-Hakim.
        Beliau merupakan seorang penulis yang memiliki latar belakang pendidikan keislaman. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Sleman, beliau melanjutkan pendidikan di Ma'had Ali bin Abi Tholib dan kemudian menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Agama Islam Masjid Syuhada Yogyakarta dengan mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam. Dalam perjalanan literasinya, Luqman Al-Hakim telah menghasilkan beberapa karya buku dan masih aktif menulis dengan harapan dapat terus memberikan manfaat melalui tulisan.

        Dari perjalanan kedua penulis tersebut, saya melihat bahwa buku ini tidak hanya hadir sebagai sebuah karya tulis biasa, tetapi merupakan hasil dari pengalaman, perenungan, dan kepedulian terhadap manusia yang sering kali menghadapi berbagai ujian kehidupan. Setelah mengenal sosok yang berada di balik buku ini, saya semakin memahami bahwa sebuah karya dapat lahir dari perjalanan panjang dan ketulusan untuk memberikan penguatan kepada orang lain.

Buku ini diawali dengan sebuah kalimat yang menurut saya memiliki makna yang sangat kuat:

"Jika Allah adalah alasanmu untuk hidup, maka masalah bukanlah alasan bagimu untuk menyerah."

        Kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari berbagai ujian. Setiap orang memiliki perjalanan dan tantangannya masing-masing. Terkadang masalah yang datang silih berganti dapat membuat seseorang merasa lelah, kehilangan arah, bahkan berada pada titik ingin berhenti berjuang.

        Namun, melalui pesan yang ingin disampaikan dalam buku ini, pembaca diajak untuk memahami bahwa masalah bukanlah akhir dari perjalanan. Ketika manusia merasa tidak memiliki kekuatan, Allah Subhanahu Wa Ta'ala tetap menjadi tempat untuk kembali, tempat untuk bersandar, berdoa, dan menemukan alasan untuk terus melangkah.

        Menurut saya, buku Tuhan, Berikan Aku Alasan untuk Tidak Menyerah hadir sebagai rangkaian pesan motivasi bagi siapa saja yang sedang berjuang menghadapi dinamika kehidupan. Buku ini tidak hanya memberikan kata-kata penguat, tetapi juga mengajak pembaca untuk menjaga harapan dan memperkuat keyakinan bahwa setiap ujian memiliki makna yang dapat menjadi bagian dari proses pendewasaan diri.

Salah satu kutipan dalam buku ini yang menurut saya memiliki makna mendalam adalah,
“Selama itu tidak membunuhmu, itu hanya akan membuatmu bertambah kuat.”
        Kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa setiap ujian yang hadir dalam kehidupan bukan selalu bertujuan untuk melemahkan, tetapi dapat menjadi proses yang membentuk ketangguhan dan kedewasaan diri.

        Namun, sebagai manusia, kita memang memiliki keterbatasan. Ketika menghadapi kesulitan, terkadang kita mudah merasa lelah, mengeluh, bahkan kehilangan harapan. Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam QS. Al-Ma'arij ayat 19–22:
اِنَّ الْاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًاۙ
"Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh (lagi kikir)."
اِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعًاۙ
"Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah,"
وَاِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوْعًاۙ
"dan apabila dia mendapat kebaikan (kemenangan/harta) dia amat kikir,"
اِلَّا الْمُصَلِّيْنَۙ
"kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat,"

  
        Pada akhirnya, ketika kehidupan terasa berat dan langkah mulai melemah, bukan berarti kita harus menyerah. Semoga buku Tuhan, Berikan Aku Alasan untuk Tidak Menyerah menjadi pengingat bagi kita semua untuk tetap bertahan, memperkuat keyakinan, dan menemukan alasan untuk terus melangkah dalam menghadapi setiap dinamika kehidupan.

Terima Kasih 😊.

Semoga Bermanfaat :).

Komentar

Postingan Populer